Ratusan Hektare Lahan Pertanian di Pesawaran Terdampak Banjir, Diantaranya Mengalami Puso

  • Whatsapp
Ilustrasi sawah terendam banjir

Pesawaran (SNC): Memasuki awal tahun 2021, ratusan hektare sawah petani di Kabupaten Pesawaran terkena dampak banjir.

Data Dinas Pertanian Kabupaten Pesawaran per bulan Januari 2021 ada sejumlah wilayah yang lahan pertaniannya terdampak banjir, diantaranya Kecamatan Way Khilau seluas 190 hektare, Kedondong 35 hektare dan Way Lima 72 hektare.

Bacaan Lainnya

Alhasil ada beberapa daerah yang mengalami Puso seperti di Desa Gunung Sari Kecamatan Way Khilau seluas 10 hektare, Desa Kertasana Kecamatan Kedondong seluas 29 hektare dan yang terakhir Desa Sindang Garut Kecamatan Way Lima seluas 25 hektare.

Selanjutnya, curah hujan cukup tinggi kembali terjadi pada awal hingga pertengahan bulan Februari 2021, yang membuat lahan pertanian kembali terendam banjir.

Berdasarkan hasil inventarisir Dinas Pertanian Kabupaten Pesawaran Pada bulan Februari ada Lima Kecamatan yang lahan pertaniannya terdampak banjir diantaranya, Kecamatan Way Khilau seluas 190 hektare, Kecamatan Kedondong 100 hektare, Kecamatan Way Lima 15 hektare, Kecamatan Negeri Katon 170 hektare dan Kecamatan Tegineneng 116 hektare, namun semuanya belum ada yang berstatus Puso.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pesawaran Anca Martha Utama mengungkapkan telah melakukan proteksi terhadap petani agar tidak mengalami kerugian lebih parah.

“Kalau yang untuk terjadi Puso pasti akan kita ambil tindakan, kita akan mengajukan benih pengganti untuk petani sesuai dengan luasan lahan yang terjadi Puso, kecuali dia terima asuransi pertanian, karena kan pasti sudah diganti oleh pihak asuransi,” ungkap Anca saat dihubungi Kamis 18 Februari 2021.

Menurutnya, untuk menentukan status Puso pada lahan pertanian pasca terdampak musibah, pihaknya akan berkoordinasi dengan Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT).

“Untuk menjustifikasi lahan itu Puso atau tidak, kita dibantu oleh POPT, jadi tidak serta-merta akibat terendam banjir semua lahan pertanian dianggap Puso, seperti pada bulan Februari (2021) meskipun luas lahan yang terdampak banjir bertambah, tapi sejauh ini penilaian Puso dari POPT belum ada,” ujar dia.

Dijelaskannya, bagi wilayah pertanian yang rawan banjir, memang perlu mendapatkan perhatian terutama dari lintas sektoral.

“Jadikan untuk penanganan daerah rawan banjir itu harus sistematis, tidak mungkin hanya diperbaiki irigasinya saja langsung tuntas, tapi dari hulu hingga hilir juga perlu diperbaiki, makanya perlu penanganan antara stakeholder terkait termasuk Pemerintahan Desa,” jelas dia.

Ia juga menghimbau kepada para petani untuk selalu berkoordinasi dengan Dinas Pertanian, terutama memasuki masa tanam.

“Yang pasti petani harus rutin berkoordinasi dengan penyuluh, seperti bagaimana kondisi cuaca, tentang potensi curah hujan itu kapan terjadi, meskipun itu belum sepenuhnya akurat setidaknya bisa memberikan gambaran kepada petani sebelum melakukan penanaman,” tutupnya. (RU)

Dibaca : 194 Kali

Pos terkait